BBM naik?
Sebenarnya gampang-gampang saja. Bagi yang merokok, sekarang enggak usah lagi beli rokok. Bagi yang hobi internetan, sekarang enggak usah lagi langganan. Bagi yang suka pergi liburan tiap Minggu, sekarang di rumah saja. Bagi yang suka otak-atik motor, sekarang enggak usah menghabiskan uang buat beli aksesoris motor. Bagi yang doyan belanja pakaian, sekarang dihentikan karena pakaian di rumah sudah numpuk. Bagi yang suka menghabiskan uang minimal seratus ribu buat makan di restoran, sekarang kalau makan ke warung saja.
Dengan menghapus pengeluaran yang tidak perlu, bisa tersisih uang untuk menyikapi kenaikan BBM. Tapi masalahnya, kita mesti enggak mau. Kita tetap beli rokok, tetap internetan, tetap shopping, dan sebagainya dan sebagainya. Terus kalau ke SPBU dan melihat harga BBM, kita mengeluhkan harganya yang menguras isi dompet.
Namun, sebenarnya ada kok orang-orang yang terkena dampak pahit kenaikan BBM. Contohnya adalah nenek-nenek penjual buah atau penjual bunga. Mereka datang dari desa, naik angkutan umum, lalu menggelar tikar di emperan toko di kota. Dari rinjing, mereka mengeluarkan buah-buahan yang mereka petik sendiri. Atau juga mengeluarkan bunga bagi pedagang bunga. Seharian mereka menawarkan dagangan pada lalu lalang orang yang sedikitpun enggak pernah melirik mereka.
Namun, mereka bukanlah orang-orang yang protes terhadap kenaikan BBM. Mereka bukan orang-orang yang sibuk dengan demonstrasi. Mereka bukan orang-orang yang memasang spanduk. Selain karena tidak mampu melakukan itu, juga karena mereka menganut prinsip nrimo ing pandum. Mereka nrimo, benar-benar nrimo. Termasuk juga menerima ketika pemerintah melupakan mereka.
Enggak, enggak cuma pemerintah. Kita sendiri juga sudah melupakan mereka, kan? Kita sibuk teriak-teriak, sibuk komentar, sibuk menghujat, karena memang itulah kegemaran kita.
0 komentar:
Posting Komentar